Bambang Suharto : Pembangunan Reservoar di Fatukoa Mubasir karena perencanaannya terbalik

0
492

Kupang_KlikNTT. Com – Mubasirnya pembangunan Bak penampungan air bersih(reservoar) semenjak tahun 2009 di Kelurahan Fatukoa Kecamatan Maulafa Kota Kupang sampai saat ini masih membingungkan masyarakat sekitar.

Pengamat pembangunan Infrastruktur Bambang Suharto saat di wawancarai mengatakan pelaksanaan Proyek tersebut terbalik karna tidak di survei terlebih dahulu.

“Pelaksanaan nya terbalik, karna bukan di survei dahulu malah di buat baknya terlebih dahulu. Yang sebenarya harus di survei untuk mengecek kekuatan debit airnya berapa, setelah itu baru di buat baknya. Ini kan aneh sekali”. Kata bambang saat di wawancarai selasa(27/02/18).

Dia mengatakan dalam melakukan survei awal pun harus mendatangkan orang yang benar-benar ahli dalam bidang tersebut karena hal tersebut demi kepentingan umum.

“biasanya kalau melalului prosedur yang baik itu, orang yang survei awal harus benar-benar punya keahlian di bidang itu. Bukan asal nama saja, karena harus ambil air dari sumber bukan dari pengeboran jadi harus tes debitnya dulu, karena sumber airnya juga terbagi untuk kawasan pertanian warga, jadi ini harus terstruktur dengan baik agar tidak saling merugikan”. Tegasnya.

Ia juga menjelaskan dalam melakukan pembangunan Infrastruktur untuk kepentingan umum harus berpegang pada lima Moto yaitu tepat waktu, tepat mutu, tepat biaya tepat guna dan keselamatan kerja.

“harus berpatokan pada Moto tersebut, kalau tidak akan tetap mubasir seperti ini. Waktu survei untuk tes kekuatan debit air pun pada bulan oktober bukan sembarangan, agar bisa mengetahui dengan jelas kekuatan debit airnya”. Jelasnya.

Saat di tanya apakah ada indikasi korupsi dalam hal ini, dia tidak berkomentar lebih jauh tentang hal itu.

“Untuk Korupsi kita tidak bisa tau, tapi manfaatnya itu yang masyarakat pertanyakan”. Katanya.

Ia pun berharap, kejadian tersebut jangan terulang lagi. Agar masyarakat tidak berpikir yang negatif untuk pemerintah.

“semoga kejadian ini tidak terulang kembali, karna istilahnya masyarat sudah berikan permen tapi dalamnya di isi empedu. Jangan masyarakat kecil selalu di bodohin”. Imbuhnya.
(Yapi Manuleus).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here