Kehabisan Stok BBM Solar, 60 Sopir Truk Berantrian di SPBU Mbay

0
449

Nagekeo, KlikNTT.Com-Tampak Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo dengan puluhan Mobil dum truck berantrian untuk membeli Solar Bersubsidi. Hal Ini Membuat Puluhan Sopir Dump Truck Marah Dan kecewa akibat kehabisan solar. Senin (16/9/2019) Sekitar Pukul 07.30 WIB.

Dari pantauan KlikNTT.Com di lokasi, puluhan mobil dump truk berjejer di samping jalan Kolibali untuk mengisi BBM jenis solar. Panjangnya sampai 1 kilo meter (KM).

Salah seorang sopir dump truck Fanci (32) mengungkapkan, dirinya kesal sejak pukul 07.00 WIB antre hingga sekarang tetapi tak diizinkan manajemen SPBU mengisi BBM. Menurutnya, manajemen SPBU menjelaskan bahwa BBM solar telah habis sehingga tidak dapat mengisi dump truck lain.

“Kalau sekarang kita isi 200 ribu sudah tidak bisa kalau isi yang 500 ribu baru bisa. Padahal masyarakat meminta kita untuk melayani. Tetapi dengan keadaan begini terpaksa kita diam saja. Kalau proyek habis bagaimana dan kita mau isi solar dimana?. Tanya dia.

Ia menambahkan bahwa untuk subsidi diperbolehkan hanya Bus saja dan untuk Truck tidak diperbolehkan. Baru kita ini sopir pribadi mungkin hanya 1 dan 2 buah dum truck saja. Kalau kita diperlakukan sama berarti  kita susah juga.

Lanjut Fanci buktinya hari ini dum truck sudah tidak bisa jalan lagi. Karena tidak bisa melayani solar. Dari 5000 lebih ke 9000 lebih untuk harga industri. Jadi oto-oto tidak bisa pake subsidi jadi kita pikir yang pake hanya bus. Padahal kita hanya beda bentuknya, padahal tujuan dari kita sendiri sama. Jangan sampe mereka memperlakukan kita sama seperti PT. Jelasnya.

Sementara Ketua Organisasi Angkutan Darat (ORGANDA) As Legu saat ditemui Media dirinya meminta agar pihak SPBU melakukan sosialisasi. Memang peraturan sudah diatur dari Pusat. Tapi kami sendiri tidak tau bentuk edaran seperti apa. Ditambah dengan sumber daya manusia yang masih minim.

“Dan ini menjadi tugas ORGANDA untuk bisa menyampaikan ke Perhubungan dan lintas instansi. Selaku Ketua saya hanya bisa memfasilitasi teman-teman agar tidak terjadi gejolak atau hal-hal yang tidak diinginkan. Namun disisi lain kita juga melihat ada nilai Negatif dan nilai positif. Dengan keadaan SDM Para sopir, setidaknya mereka bisa membuka mata.

Terkait soal kenaikan harga tidak menjadi masalah tetapi intinya harus ada sosialisasi. Lanjutnya, karena kemarin itu harga subsidi per liter 4.100 baru kita diarahkan ke Non subsidi dengan harga per liter 9.600. Kalau Subsidi dia naikan ke 6000 itu tidak menjadi masalah buat kami jangankan 6000 kalau naik sampai 6.500 itu juga tidak masalah. Tapi ini subsidi dialihkan ke non subsidi itu mati kita ini. Tegasnya.

Ia menambahkan bahwa Hari ini kita sudah koordinasi dengan pihak kepolisian agar tidak terjadi gejolak atau hal-hal yang tidak diinginkan. Kita hanya bisa menunggu jawaban agar bisa menemukan solusi yang terbaik.

Dan kita mendapatkan jawaban bahwa per hari kita mendapatkan 30 liter. Setelah isi selesai subsidi baru bisa kita isi non subsidi. Karna dari pusat seharusnya ke non subsidi.

“Puluhan sopir bersepakat jika per hari 30 liter dan selebihnya harus ke non subsidi. Dengan kekuatan 1 hari 30 liter saya menyampaikan harus uji coba dulu. Jika min 30 liter resikonya besok kita akan tambahkan dengan yang non subsidi. Dan hal itu yang harus diantisipasi oleh para sopir atau pemilik kendaraan”. Katanya. (VD).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here