Fashion Show Duta LeviCo Tampilkan 13 Busana Tenun Ikat pada Acara Festival Literasi

0
507

Nagekeo, KlikNTT.Com- Sebanyak 13 koleksi tenun yang berasal dari pengrajin Kabupaten Nagekeo, Rote, Sabu dan Alor ditampilkan oleh Fashion Show dari Duta LeviCo pada acara Festival Literasi. Adapun Potongan busana yang ditampilkan menghadirkan kesan glamour yang dibalut dengan nuansa gelap.

Para peserta Fashion Show dari duta LeviCo tampil memukau di acara festival literasi Nagekeo yang berlangsung di Lapangan Berdikari Danga(LBD), Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Minggu (29/9/2019) malam.

Dengan nuansa kuning emas, hitam motif khas Nagekeo ini mendominasi koleksi LeviCo ini dengan detail dan motif khas NTT. Coat panjang dengan potongan lebar dibagian bawahnya menjadi fokus LeviCo kali ini.

Tak hanya itu, para peserta fashion show dari LeviCo kali ini menampilkan gaun-gaun dari kain tenun dari Kabupaten Nagekeo dan dari daerah NTT tampak jalan melenggang lenggok dengan alunan musik sentak diatas panggung utama.

Tampak para tamu undangan dan masyarakat yang datang menonton festival tersebut seakan menyihir ribuan penonton sembari bertepuk tangan meriah dengan teriak-teriakkan khas Nagekeo.

Untuk diketahui LeviCo merupakan busana ready-to-wear hasil kolaborasi Julie Laiskodat selaku pemilik tenun NTT tampil memukau pada festival literasi Nagekeo.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, pada kesempatan mengatakan, anak-anak yang memperagakan hasil tenun ikat khas NTT. Dan anak-anak yang mengikuti fashion show ini juga dibimbing oleh desainer terkenal, gaun yang dikenakan malam ini juga adalah gaun khas Nagekeo dengan kolaborasi dari hasil tenun dari daerah-daerah yang ada di NTT.

“LeviCo tampil di Kabupaten Nagekeo baru malam ini dan pertama kali, namun LeviCo juga sudah membawakan anak-anak NTT sampai ke Jakarta dalam mengikuti Jakarta Fashion Week dan Indonesian Fashion Week,”ungkapnya.

Julie Laiskodat berpesan kepada masyarakat Nagekeo bahwa, kain tenun ini juga membawa makna tersendiri untuk para wanita di desa-desa yang ada di NTT untuk memoertahankan budaya sekaligus sebagai salah satu potensi ekonomi di daerah untuk masa depan anak-anak di NTT.

“Anak-anak maupun masyarakat NTT lebih khususnya masyarakat Nagekeo jangan malu dengan hasil tenun ikat kita sendiri,”tandasnya.

Istri Gubernur NTT ini menjelaskan, NTT mempunyai budaya yang luar biasa. leluhur kita mempunyai budaya sangat luar biasa. NTT mempunyai tenun ikat yang berbeda dengan ciri khasnya masing-masing. Budaya kita adalah sesuatu yang sangat luar biasa kaya. Tidak ada di negara ini yang mempunyai budaya yang luar biasa dari NTT. Jadi jangan bilang NTT itu miskin.

Sementara itu Bunda Paud Nagekeo, dr. Yayik Pawitra Gati, mengatakan, sekarang ini para penenun masih belum memiliki manajemen yang baik dalam menjaga dan merawat para penenun yang ada di daerah mereka sendiri.

Ketika kita, lanjut Yayik, ingin bercerita tentang tenun ikat dengan motif yang berbeda-beda memang sangat sulit. “Mimpi saya untuk kedepan para penenun dan para penganyam di  Nagekeo ini harus mempunyai rumah literasi Nagekeo yang hidup khusus untuk para penenun dan para penganyam di Nagekeo,”Katanya.(VD).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here