Dorong Ekspor Produk Pertanian, Karantina Pertanian II Ende Gelar Rapat Koordinasi

  • Bagikan

Ende_KlikNTT.com Karantina Pertanian Kelas II Ende menggelar Rapat Koordinasi dan Sinergitas serta Giat Ekspor dan Investasi Pertanian di Club House Global View Hotel, Kabupaten Ende, Senin (9/12).

Yang hadir saat itu,  Bupati Ende,  Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean C Maumere, Pelindo III Cabang Ende, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Ende, dan pengusaha nasional. Peserta rapat koordinasi berasal dari instansi terkait, perbankan, dan akademisi.

Kabupaten Ende tak hanya dikenal sebagai bagian dari sejarah Indonesia, tempat lahirnya Pancasila yang dicetuskan oleh sang proklamator Bung Karno, tetapi juga kayak dengan hasil buminya. Area perkebunan yang masih luas dan bisa ditingkatkan tentunya bisa mendorong peningkatan produktivitas.Ungkap Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Ende, Yulius Umbu Hunggar

” Komoditas pertanian berasal dari Kabupaten Ende dan daerah sekitarnya di Flores tak kalah unggul dari wilayah lain. Sebut saja misalnya kopi yang sudah terkenal ke mancanegara. Penghasil kopi berkualitas dan sudah terkenal dari Flores yaitu Bajawa dan Manggarai.

Yulius menambahkan kegiatan ini tentunya sangat strategis  untuk mewujudkan ekspor komoditas pertanian dari Ende. Meskipun saat ini belum ada alat angkut dan juga pelabuhan yang ditetapkan sebagai tempat pengeluaran untuk ekspor, harus tetap optimistis merealisasikannya secepatnya.

Terlebih melihat potensi ekspor komoditas unggulan yang keluar dari Ende, sinergitas antar instansi dan seluruh stake holder harus diperkuat.

“Hingga November lalu, komoditas pertanian dari Ende yang dikirim sebanyak 94 ton atau senilai Rp 2,976 miliar. Tentunya bila produktivitas dan kontiunitas bisa ditingkatkan maka bisa meningkatkan neraca perdagangan. Apalagi kopi Flores sudah dikirim ke Belanda, Amerika Serikat, Australia, Tiongkok, Taiwan, dan Inggris melalui Surabaya,” tutur Yulius.

Yulius berharap rapat koordinasi ini menjadi langkah awal untuk mewujudkan ekspor komoditas pertanian dari Ende. Infrastruktur  dan persyaratan lainnya sudah siap tentunya sudah menjadi keniscayaan Ende dan daerah lainnya di Flores mampu ekspor secara langsung.

Kepala Bidang Keamanan Hayati Hewani,  Amir Hasanudin yang hadir mewakili Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) selaku narasumber memaparkan peran Barantan selaku economic tools. Artinya bisa mendorong peningkatan ekonomi dengan ekspor komoditas pertanian. Peran lainnya karantina sebagai sistem perlindungan hewan, tumbuhan, lingkungan dan sumber daya hayati; sistem pengawasan keamanan pangan, pakan, perlindungan dari bioterorism; dan perlindungan di perbatasan (border protection).

“Kami mengapresiasi giat seperti ini sebagai langkah nyata untuk menyinergikan antar-pemangku kebijakan. Duduk bersama membahas dan segera merealisasikan ekspor komoditas pertanian dari Ende. Jadi bila ada kendala bisa segera diatasi sesuai tupoksi masing-masing,” kata Amir.

Hasil dari rakor ini, Amir menegaskan, tentunya untuk kesejahteraan petani dan masyarakat pada umumnya. Peningkatan produktivitas pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan 267 juta masyarakat dan lebihnya bisa dikirim ke daerah atau negara lain. Surplus ini nantinya yang akan menjadi peningkatan neraca perdagangan.

“Peluang investasi bidang karantina di Ende dan Flores umumnya masih terbuka luas. Misalnya saja fumigasi, belum ada fumigator di Pulau Flores. Padahal fumigasi ini menjadi syarat dari 20 negara tujuan. Rumah sarang walet juga peluang investasi, karena produknya ini sudah punya pasar tetap yaitu Tiongkok yang paling tinggi volumenya. Berdasarkan data otomasi IQFast ada pengeluaran sarang burung walet dari Flores ini,” paparnya Amir.

Amir menjelaskan ada lima kebijakan strategis Kementerian Pertanian dalam meningkatkan ekspor komoditas pertanian. Kebijakan tersebut adalah meningkatkan volume ekspor, menambah jumlah negara mitra dagang, meningkatkan frekuensi pengiriman, menambah ragam komoditas ekspor, dan mendorong pertumbuhan eksportir baru.

“Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks). Saya optimistis Ende mampu mengekspor secara langsung komoditas pertaniannya dengan potensi yang masih besar. Peran pemerintah daerah dan pemangku kebijakan lainnya sangat penting,” pungkasnya.

Pengusaha nasional asal Ende Indra Hasan menyampaikan bahwa kualitas dan kuantitas komoditas dari Ende harus berkelanjutan supaya bisa memenuhi kebutuhan pasar luar. Namun, terpenting juga mengenai penetapan otoritas di pelabuhan untuk bisa ekspor.

Hasil rapat koordinasi disepakati pembentukan Tim Terpadu Giat Ekspor dan Investasi Pertanian di Ende dengan surat keputusan Bupati Ende untuk segera menindaklanjuti.

Bupati Ende, Djafar Ahmad menyempaikan apresiasi  dan penghargaan yang tinggi kepada pimpinan dan jajaran balai karantina yang melaksanakan kegiatan bagi generasi milenial untuk menjadi pelaku utama dalam kegiatan invenstasi dan ekspor bidang pertanian.

” Pemerintah kabupaten ende telah menandatangi perjanjian kerjasama Pendidikan, Penelitian, dan Perikanan dengan institut Bogor diharapkan dapat mendongrak dan meningkatkan sektor-sektor ini menjadi sektor unggulan pembangunan di kabupaten ende “, katanya.

ia berharap dukungan dan pendampingan dari institut Pertanian bogor terutama memberikan pemikiran-pemikiran yang konstruktif, sehingga dari sektor unggulan ini dapat meningkatkan PAD kabupaten Ende.

Penulis : Elton Rete
Editor. : Fred Siga

 

  • Bagikan