Satu  Hektare  Padi sawah di KM 1 Nagekeo Rusak Parah Akibat Diterjang Angin Kencang

0
252

Nagekeo,KlikNTT.Com-Satu Hektar Tanaman padi sawah di Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo Tepat nya KM 1 Bagian Kanan, Kabupaten Nagekeo rusak berat setelah diterjang angin kencang  Tanaman padi juga roboh dan terendam air. Kamis, (09/4/2020).

Dari Pantauan Media ini Tampak para petani menyiasatinya dengan mengikat tanaman padinya yang berumur 3 bulan itu menggunakan tali namun hal tersebut gagal. Padahal tinggal satu bulan lagi Padi Tersebut Memasuki Usia Panen

Anggota Kelompok Tani  Sumber Hidup Lima Hermanus Sana Saat ditemui Media mengatakan bahwa padinya yang sudah 3 bulan itu rusak akibat diguyur hujan dan angin kencang selama 1 jam lebih.

“Kalau mau jujur kurang lebih 1 hektare lebih tanaman padi milik saya rusak dan roboh, karena diterjang angin kencang dalam satu hari terakhir kemarin. Ungkapnya.

Lanjut Arman, “Kami juga sudah coba Agar padi tidak membusuk dalam air, saya dan beberapa petani sudah menyiasatinya dengan mengikat tanaman padi menggunakan tali tapi tetap sama.

Arman mengaku, akibat tanamannya roboh diterjang angin dan terendam air diperkirakan hasil panennya, akan menurun sekitar 99 persen, dibandingkan saat panen normal. Selain tanamannya rusak, sekarang banyak hama tikus dan ayam,” keluhnya.

Kini para petani hanya bisa pasrah sambil berusaha untuk memikirkan solusi.

Menurut arman akibat tanaman padi tersebut angka kerugian sekitar 30 juta.

“Soal Angka kerugian kalau mau dibilang sekitar 30an juta. Otomatis padi yang roboh ini saya harus kerja ulang dari awal. Tambahnya.

Sementara Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kabupaten Nagekeo Marselinus Lamara Gani saat meninjau dilokasi persawahan mengaku menyayangkan kejadian bencana yang merobohkan tanaman padi tersebut.

Ini menjadi potret perhatian pemerintah untuk meninjau langsung tentang situasi yang terjadi.

Menurut Marsel dengan kondisi demikian, otomatis petani hanya pasrah menunggu air surut untuk kembali turun ke sawah. Namun dia mengatakan, kemungkinan besar para petani tersebut tidak ada lagi modal untuk membeli bibit dan kebutuhannya lainnya lantaran sudah merugi.

“Setiap empat bulan sekali, pasti petani harus panen padi. Tapi musim ini sudah gagal. Minimal para petani harus memulai dari awal lagi.

Gagal panen ini, kata dia bukan hal baru. Kondisi demikian sering dialami petani di wilayah itu. Setiap kali hujan deras dengan durasi waktu yang cukup panjang kerap air meluap.

Sementara itu petani lain mengatakan bahwa saat hujan, semua masalah yang ditimbulkannya dalam bencana banjir kali ini pasti dicarikan solusi. Apalagi sekarang ada berita Virus Corona, pasti semua akan terpusat untuk mencari solusi tentang Corona.

“Adapun untuk saat ini pihak Pemerintah masih fokus mengurus Virus Corona  intinya Segera kita carikan solusi soal sawah petani. Harapnya. (Vhiand Dhalu).