Impian Eren di Balik Profesi Orang Tua Sebagai Penjual Sayur

  • Bagikan

Nagekeo, KlikNTT.Com-Erentrudis Mika (24) Gadis Kampung Boasabi, Kelurahan Dhawe, Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo yang sehari-hari orang tuanya berjualan sayur di Pasar Danga dan membuat diri nya berhasil meraih gelar Sarjana Kebidanan (D4) di Kampus Unitri Malang Kota Malang.

Eren (24), Gadis Kampung Boasabi yang sehari-hari berjualan sayur di Pasar Danga di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT tidak menyangka bisa menyelesaikan pendidikan Diploma empatnya berkat Ibunya yang berjualan sayur dan Ayahnya yang sehari-harinya di Sawah.

Eren, panggilan akrabnya, sudah lama berjualan sayur di Pasar Danga sejak masih di bangku sekolah. Pekerjaan itu sudah mulai Ia geluti tepatnya setelah dirinya selesai dan pulang setelah menyelesaikan studinya di Malang.

Dirinya ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena keluarganya bukan merupakan orang berada, membuat Eren harus berjuang demi mewujudkan cita-citanya itu dengan berjualan sayur. Namun di balik berjualan Ia terus berupaya membuat lamaran untuk bekerja.

Ayahnya bernama Simon Toy(61) tahun hanya bekerja sebagai Petani Sawah Padi, sehingga hasilnya tidak menentu. Sedang ibunya Donata Dona(45).

Dengan demikian, hasil dari berjualan sayur itu dia kumpulkan. Sebagian Ia gunakan untuk menabung dan separuhnya diberikan kepada kedua orang tuanya untuk membayar cicilan. Sebagai persiapan Ia simpan untuk modal tambahan untuk membiayai adiknya yang masih kuliah.

Eren mendaftar kuliah di salah satu Unitri Malang perguruan Tinggi dengan mengambil jurusan Kebidanan (D4).

Dia mengaku sempat membuat surat lamaran untuk bekerja di sebuah Rumah sakit Ratedosa Aeramo namun sampai saat ini belum ada panggilan kerja. Setiap upaya untuk bekerja sudah Ia lakukan namun niatnya belum dikabulkan. Akhirnya Gadis Kampung Boasabi itu harus memilih bekerja sebagai penjual sayur di tengah masa Pandemi Virus Corona (Covid-19) dengan menggantikan Ibunya karena Ia tidak ingin membebani kedua orang tuanya untuk uang kuliah sang adik.

Berapapun hasil yang diperoleh dari berjualan itu Ia tabung sedang sisanya untuk kebutuhan sehari-hari.

“Saya baru memulai berjualan sayur ini mulai sejak pagi. Seharusnya selama ini yang jual sayur itu mama saya. Karena mama takut bahwa ada Virus Corona, akhirnya mama saya harus membantu Bapak di Sawah. Kata Eren kepada KlikNTT.Com. Selasa, (21/4/2020).

Setiap hari Eren selalu bangun pagi untuk belanja kebutuhan dagangan. Setelah semua kebutuhan terpenuhi, Eren kemudian menjualnya di lapak yang sudah disiapkan mulai dari 07.00 WIB hingga 15.00 WIB.

Setelah pulang berjualan sayur, Eren tidak langsung beristirahat. Dia harus membantu orang tuanya di rumah.

“Hasil jualan sayur saat ini tidak menentu. Bahkan sepi pengunjung yang datang akibat Virus Corona  Kadang dapat Rp 75.000, Kalau ramai bisa dapat Rp 100.000. Kadang 150.000” ungkap Eren.

Eren bangga perjuangannya selama ini terbayar dengan menyandang status sarjana Kebidanan. Ia bercita-cita menjadi seorang Dokter sekaligus Berwirusaha.

Cita-cita itu sudah lama Ia impikan karena ingin menularkan semua ilmu Kebidanan yang dicapainya untuk kepada masyarakat luas.

“Saya punya keinginan membantu dan merawat pasien. Karena itu cita-cita saya dari dulu. Saya juga punya keinginan bisnis. Supaya bisa menyalurkan jiwa wirausaha saya kepada adik-adik saya dan orang tua saya,” tutur dia.

Lebih jauh, Eren berpesan kepada  generasi muda lebih khusus pada teman-temannya yang sedang berjuang untuk mendapatkan pekerjaan.

“Saya hanya ingin berpesan kepada teman-teman saya bahwa  untuk tidak malu dan memandang apapun pekerjaan yang dimiliki sekarang ini seperti menjual sayur maupun buah-buahan. Justru dengan pekerjaan itu bisa dijadikan sebagai motivasi demi memperoleh cita-cita yang diimpikan.

“Intinya tidak usah takut susah, jangan malu dan jangan gengsi,”kata wanita kelahiran Boasabi itu. (Vhiand Dhalu).

  • Bagikan