Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Daerah

BOP-LBF Gelar Pelatihan Berkebun Hidroponik untuk Petani di Desa Golo Desat, Mbeliling

7
×

BOP-LBF Gelar Pelatihan Berkebun Hidroponik untuk Petani di Desa Golo Desat, Mbeliling

Sebarkan artikel ini

Peserta sedang asyik mengikuti pelatihan merangkai instrumen untuk mendukung kebun hidroponik. (Foto: Humas BOP-LBF)

Labuan Bajo_KlikNTT.Com_Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo – Flores (BOP-LBF) menggelar pelatihan berkebun hidroponik untuk 22 petani asal Desa Golo Desat, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT, di Rangga Watu, Desa Golo Desat, Manggarai Barat, Senin – Minggu (14 – 19/9/2020). Kegiatan yang berlangsung sepekan ini beritensi untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), sekaligus untuk memperkuat sektor agrowisata melalui teknologi pertanian.

Direktur BOP-LBF, Shana Fatina saat membuka kegiatan tersebut menyatakan, bahwa pertanian merupakan salah satu sektor penting yang dapat mendukung sektor pariwisata. Shana menekankan, produk pertanian yang dihasilkan mesti memenuhi standar kualitas pariwisata, sehingga mampu bersaing untuk masuk ke dalam industri pariwisata Labuan Bajo. Dengan demikian, tegasnya masyarakat dapat memperoleh manfaat dari pertumbuhan pariwisata Labuan Bajo.

“Jika kita ingin menjadi petani dan peternak yang makmur, kita harus mendorong produk kita untuk dapat dimanfaatkan lebih banyak orang, salah satunya wisatawan tadi itu. Bagaimana caranya kita pastikan mereka menkonsumsi sayur-sayuran dari Mbeliling, bunga-bunga atau kopi dari sini? Hal-hal seperti ini yang sedang kita bantu dan kita asistensi agar hotel, restoran, dan kapal harus mengambil dan mengutamakan produk-produk lokal yang dihasilkan oleh teman-teman di Manggarai barat”, ungkap Shana.

Shana berharap, melalui pengembangan teknologi pertanian hidroponik yang digelar BOPLBF ini, mampu mendorong para petani di Kecamatan Mbeliling untuk dapat menghasilkan produk-produk pertanian, yang memenuhi standar kualitas pariwisata.

“Kami mendorong teman-teman di sini melalui hidroponik yang kita lakukan hari ini. Ayo, kita mulai belajar menyiapkan produk-produk pertanian yang baik, yang mampu memenuhi standar kualitas pariwisata.Teman-teman di Mbeliling harus berkomitmen untuk ambil bagian dari rantai pasok pariwisata Labuan Bajo”, tegas Shana.

Menurut Shana, pembangunan pariwisata Labuan Bajo yang masif tidak akan ada artinya jika masyarakat Manggarai Barat tidak dilibatkan. Demikian juga dengan konten lokal sebagai potensi natural setempat, jika tidak terpenuhi kualitasnya, tentu tidak akan memberi dampak signifikan bagi masyarakatnya.

Penting juga menurutnya, partisipasi masyarakat dalam membangun pariwisata, melalui berbagai sektor, salah satunya sektor pertanian yang menjadi fokus perhatian BOPLBF saat ini.

Menurutnya, tahun 2019, hampir 85% supply bahan baku pangan industri pariwisata Labuan Bajo didatangkan dari luar daerah. Sementara, 66% masyarakat masih berprofesi di sektor primer, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, maupun peternakan.

Berangkat dari kondisi ini, Shana mendorong masyarakat Mbeliling untuk menangkap peluang tersebut dengan berkomitmen untuk ambil bagian dalam rantai pasok pariwisata Labuan Bajo.

Senada, Camat Mbeliling, Robertus Resmianto dalam sambutan pembukaan kegiatan tersebut mengatakan, bahwa teknologi hidroponik harus dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan, kesejahteraan, dan pariwisata daerah.

“Sudah ada 8 desa di Mbeliling yang ditetapkan sebagai desa wisata. Saya berterima kasih kepada BOPLBF yang sudah datang dan melihat langsung potensi kami disini, begitupun kepada para peserta. Kita manfaatkan potensi yang ada untuk mendukung pariwisata kita. Hidroponik harus kita manfaatkan untuk meningkatkan pendapatan, kesejahteraan, dan pariwisata kita”, ujar Robertus.

Kepala Divisi Industri dan Kelembagaan BOPLBF, Wisjnu Handoko yang terjun langsung bersama para peserta menyiapkan dan membuat rangkaian pipa hidroponik memastikan, bahwa pelaksanaan pelatihan hidroponik tidak akan hanya berakhir sampai semua bibit tanaman disemai. BOPLBF akan terus melakukan pendampingan dan monitoring hingga pelaksanaan panen pertama.

“Kami tidak hanya akan melatih, tetapi juga akan mendampingi sampai selesai. Target kami hari ke 7 semua bibit sudah harus disemai dan kami akan dampingi dan sekaligus monitoring perkembangan tanaman dan produktivitas kelompok sampai dengan panen pertama kita laksanakan”, jelas Wisjnu. (yrh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *