GMM Luncurkan Buku Perdana, Mantovanny Tapung: Peluang Muncul Peradaban Baru di Mabar

  • Bagikan

Suasana kegiatan peluncuran dan bedah buku antologi perdana karya para guru di Mabar, di Aula SMPN 1 Komodo, Sabtu (3/10/2020). (Foto: klik-ntt.com)

Labuan Bajo_KlikNTT.Com_Komunitas  Guru Mabar, Menulislah! (GMM) menggelar peluncuran dan bedah buku karya perdana mereka yang berjudul “Guru Mabar Berkreasi di Tengah  Badai Covid-19”, di Aula SMPN 1 Komodo Labuan Bajo, Sabtu (3/10/2020).

Buku Guru Mabar Berkreasi di Tengah Badai Covid-19 tersebut merupakan antologi perdana karya para guru di Manggarai Barat (Mabar) yang tergabung dalam komunitas GMM.

Namun demikian, ada juga beberapa penulis lain dari luar komunitas GMM, seperti Prof. Drs. Feliks Tans, M. Ed., Ph.D  (Dosen Undana Kupang), Pater Bernad Raho. MA., (Dosen Sosiologi di STFK Ledalero), Bapak Yohanes Sehandi, M. Si. (Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universtas Flores), Pater Yosep Laba Makin (Guru SMAK Loyola Labuan Bajo), Dr. Marsel Ruben Payong, M. Pd., (Dosen Teknologi Pembelajaran Unika St. Paulus Ruteng;  Direktur Eksekutif Perennial Institute), Bapak Willem Berybe (Pensiun Guru SMAK Geovani Kupang, mantan guru Seminari Kisol) dan Usman Ganggang (guru di Bima, NTB; mantan Koresponden mingguan DIAN).

Pembedah buku, Dr. Mantovanny Tapung, dalam kesempatan itu menegaskan, bahwa dengan hadirnya buah karya kreatif komunitas GMM tersebut, Mabar tidak saja menjadi episentrum peradaban pariwisata, tetapi juga peradaban literasi.

Menurutnya, bila kekuatan pariwisata dipadukan dengan kekuatan literasi, maka akan muncul peradaban baru yang disebut peradaban litera-wisata, yang menurutnya, tingkatan dan harga jual peradabannya jauh lebih tinggi daripada wisata premium.

“Apalah arti wisata premium bila tidak didukung oleh narasi-narasi tertulis mengenai potensi alam dan budaya di Mabar ini?” terangnya.

Dosen pada Unika St. Paulus Ruteng ini, juga menyakini, bahwa hasil karya komunitas GMM tersebut bisa menjadi model untuk para guru di wilayah nusantara ini.

“Menurut saya, kerja cerdas, kreatif dan produktif seperti ini bisa menjadi ‘best practice’ bagi para guru di dua Manggarai lainnya, juga menjadi model untuk para guru di wilayah nusantara ini. Dalam situasi apa pun, guru harus tetap menulis, dan hal itu menjadi kebanggaan tersendiri,” jelasnya.

Sementara inisiator sekaligus penggagas, Komunitas GMM, Ibu Yuliana  Tati Haryatin, menerangkan, bahwa buku  “Guru Mabar Berkreasi di Tengah  Badai Covid-19” adalah bagian penting dari proses sosiologis, psikologis, historis, religius, ideologis, eksistensial dan tanggung jawab moral.

“Dengan karya ini, guru-guru yang tergabung dalam komunitas GMM sedang menunjukkan sekaligus menegaskan identitas dan entitas keberadaan dirinya sebagai homo sapiens. Manusia yang berakal budi, tidak saja dikenang karena potensi pemikiran, tetapi juga karena telah mengejawantahkan potensi itu dalam bentuk karya,” tegasnya.

Kegiatan literatif yang dipandu moderator Dr. Marsel R. Payong, M. Pd. tersebut berlangsung alot. Hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Mabar Gusti Dula, Kepala Dinas Pariwisata Mabar Agustinus Rinus, dan anggota komunitas GMM. (yrh)

  • Bagikan