Transformasi Bank NTT Menuju TKB 2 dan Bank Devisa

0
34

Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho saat memberikan keterangan pers kepada awak media didampingi Direktur Kepatuhan Bank NTT, Hilarius Minggu, Kepala Divisi RenCorsec Bank NTT, Endri Wardono, Kepala Divisi Treasury, Zet R. Lamu, dan Kepala Divisi Manajemen Resiko, Anna B. Tarak / Foto: Ama Beding

Kota Kupang –KlikNTT.Com_PT. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) terus melakukan inovasi cerdas untuk menuju TKB 2 dan Bank Devisa.

Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho mengatakan, meski melalui tahun yang cukup sulit karena pandemi covid-19, namun Bank NTT terus bertumbuh positif.

Hal ini dibuktikan dengan berbagai catatan positif kinerja yang berhasil ditorehkan oleh Bank NTT baik dari sisi peningkatan DPK, Tabungan, Giro, Deposito dan nilai aset yang mencapai Rp 15,932 Triliun.

“Angka-angka ini menunjukan optimisme yang kuat, bahwa meski dalam masa pandemi, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Bank NTT meningkat,” ujar Alex Riwu Kaho dalam acara media gathering bersama wartawan di Kupang, beberapa waktu lalu

Riwu Kaho menjelaskan, Bank NTT memiliki visi, yakni menjadi Bank yang sehat, kuat dan terpercaya serta misi yakni menjadi pelopor penggerak ekonomi rakyat; Menggali sumber potensi daerah untuk diusahakan secara produktif bagi kesejahteraan masyarakat NTT; Meningkatkan sumber pendapatan asli daerah; Mengoptimalkan fungsi intermediasi bank melalui penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakat dalam bentuk kredit.

Untuk mencapai visi dan misi itu, maka kedepan sudah dikonsepkan beberapa langkah strategis, seperti revitalisasi SDM, restrukturisasi organisasi, refocus bisnis, sentralisasi reporting dan elektronifikasi/digitalisasi layanan. Termasuk mendesain sejumlah program unggulan yang siap diluncurkan dan menjadi brand image Bank NTT.

“Persoalan utama kita adalah, tingkat kesehatan bank yang masih cukup sehat. Kita akan bekerja secara total untuk mendorong tingkat kesehatan bank turun dari cukup sehat menjadi sehat,” ungkap Dirut Bank NTT ini.

Dari sisi permodalan, Bank NTT akan berkoordinasi dan membangun komunikasi dengan pemegang saham sehingga dukungan permodalan juga tentu menjadi komitmen dan tanggungjawab bersama.

“Kita tahu bersama bahwa Pandemi COVID 19 menjadi  tantangan terberat saat ini, sehingga sebagai akibat wabah ini Bank NTT harus bekerja ekstra, namun dari beberapa waktu ini, sejumlah indikator ekonomi Indonesia khususnya pada industri perbankan memberikan harapan yang baik,” jelas Alex Riwu Kaho.

Mantan Direktur Pemasaran Dana Bank NTT ini menguraikan, pandemi Covid-19 membuat Bank NTT terus bekerja keras, meningkatkan kualitas layanan perbankan secara digital, melalui digital agen dan kreasi program lainnya.

Kreatifitas dan strategi-strategi cerdas ini dilaksanakan agar Bank NTT tetap menjadi bank terbaik, dan maksimal dalam mendukung mimpi-mimpi besar Gubernur NTT untuk menjadikan Bank NTT sebagai bank devisa.

“Langkah-langkah tersebut sudah disiapkan, dan tahun 2021 Bank NTT sudah melakukan persiapan baik SDM, maupun dari sisi SOP,” ungkap Dirut Riwu Kaho.

Ia menjelaskan, pada akhir tahun 2020 manajemen Bank NTT mulai berbenah menuju Bank Devisa di 2022 sesuai Rencana Bisnis Bank NTT Tahun Buku 2021–2023.

Hal utama yang dibenahi sesuai penilaian dari OJK Povinsi NTT adalah perbaikan TKB atau Tingkat Kesehatan Bank NTT dengan jargon “GO TKB 2”, yang mana saat ini Bank NTT berada pada posisi Peringkat Komposit 3 (Cukup Sehat) sedang bergerak menuju Peringkat Komposit 2 (Sehat) di tahun 2021.

Perbaikan Tingkat Kesehatan Bank ini merupakan syarat untuk menunjang kegiatan usaha seperti transaksi derivative pada Bank Devisa. Sehubungan dengan itu, maka wajib hukumnya selama 18 bulan sebelum menjadi Bank Devisa, Tingkat Kesehatan Bank NTT harus Sehat.

“Ada beberapa point yang menjadi perhatian penting untuk perbaikan Tingkat Kesehatan Bank yang tengah dipersiapkan Bank NTT yaitu peningkatan modal Rp 3 Triliun, perbaikan GCG, perbaikan profil risiko, dan peningkatan rentabilitas,” jelas Riwu Kaho.

Ditambahkannya, untuk mewujudkan Bank NTT menjadi bank yang sehat, bank devisa, serta memberi kontribusi positif bagi peningkatan pembangunan di daerah, maka manajemen tidak bisa bekerja sendiri, melainkan lewat sinergitas dengan berbagai pihak.

Ada sejumlah strategi bisnis yang sudah dirancang, dan segera diluncurkan. Sedangkan di satu sisi, Bank NTT pun dituntut bertindak professional dalam menurunkan Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet.

“Untuk menangani masalah ini, salah satu cara yang dipakai adalah dengan memanggil debitur-debitur yang tidak kooperatif. Tak terbatas disitu melainkan Bank NTT pun bekerjasama dengan lembaga yudikatif, yakni dengan pengadilan, kejaksaan dan kepolisian,” jelasnya.

Dari sisi internal, manajemen melakukan training serta berbagai pelatihan untuk memperkuat SDM demi menjaga agar tidak terjadinya gratifikasi dan fraud serta berbagai tindakan yang menyalahi etik maupun aturan perbankan.

“Terkait semangat ini, Bank NTT sudah melakukan penertiban terhadap sejumlah oknum, dan ada yang sementara berproses di internal,” tandas Riwu Kaho.

Untuk diketahui, dalam waktu dekat ini Bank NTT juga tengah mempersiapkan performa baru dari sisi tekhnologi perbankan, yaitu transformasi Mobile Bank NTT menjadi B Pung Mobile serta menjanjikan berbagai fitur yang lebih friendly.

Hadir dalam kesempatan media gathering tersebut, Direktur Kepatuhan Bank NTT, Hilarius Minggu, Kadiv Perencanaan dan Corporate Secretary, Endri Wardono, Kadiv Treasury, Zet R. Lamu, dan Kadiv Manajemen Resiko, Anna B. Tarak. (hms/ab/nm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here